Selasa, 11 Mei 2010

Fraktur Radius

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ekstremitas (anggota gerak) mempunyai fungsi lokomotris. Dibedakan antara ekstremitas atas dan bawah karena manusia sebagai insan yang berdiri tegak memerlukan anggota gerak bawah yang kokoh dan; sedangkan anggota gerak atas mempunyai fungsi yang halus, sehingga bentuk dan susunan anggota gerak yang terdiri dari tulang/otot dan persendian mempunyai gerakan yang berbeda pula sesuai dengan fungsi tiap bagian tersebut.1
Dengan meningkatnya mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian manusia sebagai salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah raga dan rumah tangga.2
Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal yang umumnya disebabkan oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan hiperekstensi. Hal ini dapat diterangkan oleh karena adanya mekanisme refleks jatuh di mana lengan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk seperti gaya jatuhnya atlit atau penerjun payung.3
Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak, Fraktur yang mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah metafisis tulang radius distal, dan ulna distal sedangkan fraktur pada daerah diafisis yang terjadi sering sebagai faktur type green-stick. Fraktur tulang radius dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah atau 1/3 distal.4,5

B. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui dan memahami jenis-jenis fraktur pada radius, faktor penyebab, gejala klinis dan penatalaksanaan yang tepat serta komplikasi yang terjadi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinui¬tas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umum¬nya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebab¬kan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebab¬kan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.6

B. Struktur Tulang
Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun ukuran, tapi mereka masih punya struktur yang sama. Lapisan yang paling luar disebut Periosteum dimana terdapat pembuluh darah dan saraf. Lapisan dibawah periosteum mengikat tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey, yang masuk ke tulang disebut korteks. Karena itu korteks sifatnya keras dan tebal sehingga disebut tulang kompak. Korteks tersusun solid dan sangat kuat yang disusun dalam unit struktural yang disebut Sistem Haversian. Tiap system terdiri atas kanal utama yang disebut Kanal Haversian. Lapisan melingkar dari matriks tulang disebut Lamellae, ruangan sempit antara lamellae disebut Lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan Kanalikuli. Tiap sistem kelihatan seperti lingkaran yang menyatu. Kanal Haversian terdapat sepanjang tulang panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf yang masuk ke tulang melalui Kanal Volkman. Pembuluh darah inilah yang mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa metabolisme keluar tulang. Lapisan tengah tulang merupakan akhir dari sistem Haversian, yang didalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari tulang. Trabekulae ini terlihat seperti spon tapi kuat sehingga disebut Tulang Spon yang didalam nya terdapat bone marrow yang membentuk sel-sel darah merah. Bone Marrow ini terdiri atas dua macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel darah merah melalui proses hematopoiesis dan bone marrow kuning yang terdiri atas sel-sel lemak dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan Fat Embolism Syndrom (FES).
Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan osteoklast. Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah tulang baru. Osteosit adalah osteoblast yang ada pada matriks. Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua. Sel tulang ini diikat oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut matriks. Matriks ini dibentuk oleh benang kolagen, protein, karbohidrat, mineral, dan substansi dasar (gelatin) yang berfungsi sebagai media dalam difusi nutrisi, oksigen, dan sampah metabolisme antara tulang daengan pembuluh darah. Selain itu, didalamnya terkandung garam kalsium organik (kalsium dan fosfat) yang menyebabkan tulang keras.sedangkan aliran darah dalam tulang antara 200 – 400 ml/ menit melalui proses vaskularisasi tulang.7,8

C. Tulang Panjang
Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya bundar dan sering menahan beban berat (Ignatavicius, Donna. D, 1995). Tulang panjang terdiriatas epifisis, tulang rawan, diafisis, periosteum, dan medula tulang. Epifisis (ujung tulang) merupakan tempat menempelnya tendon dan mempengaruhi kestabilan sendi. Tulang rawan menutupi seluruh sisi dari ujung tulang dan mempermudah pergerakan, karena tulang rawan sisinya halus dan licin. Diafisisadalah bagian utama dari tulang panjang yang memberikan struktural tulang. Metafisis merupakan bagian yang melebar dari tulang panjang antara epifisis dan diafisis. Metafisis ini merupakan daerah pertumbuhan tulang selama masa pertumbuhan. Periosteum merupakan penutup tulang sedang rongga medulla (marrow) adalah pusat dari diafisis.7

D. Anatomi dan Kinesiologi.
Anatomi
Radius adalah tulang disisi lateral lengan bawah, merupakan tulang pipa dengan sebuah batang dan 2 ujung yang lebih pendek dari pada ulna.
Ujung atas
Radius kecil dan memperlihatkan kepala berbentuk kancing dengan permukaan dangkal yang bersendi dengan kapitulum dari humerus. Sisi-sisi kepala radius bersendi dengan taktik radius dan ulna. Dibagian bawah kepala terletak leher, dan di bawah serta disebelah medial dari leher ada tuberositas radii, yang dikaitkan pada tendon dari insersi otot biseps.
Batang radius
Disebelah atas batangnya lebih sempit dan lebih bundar dari pada dibawah dan melebar makin mendekati ujung bawah. Batangnya melengkung kesebalah luar dan terbagi dalam beberapa permukaan, yang seperti pada ulna memberi kaitan kepada flexor dan pronator yang letaknya dalam disebalah anterior; dan disebelah posterior memberi kaitan pada ekstensor dan supinator disebelah dalam lengan bawah dan tangan. Ligamentum interosea berjalan di radius ke ulna dan memisahkan otot belakang dari yang depan lengan bawah.
Ujung bawah
Agak berbentuk segiempat dan masuk dalam formasi dibawah sendi. Persendian inferior dari ujung bawah radius bersendi dengan skafoid (os.navikular radii) dan tulang semilunar (lunatum) dalam formasi persendian pergelangan tangan. Permukaan persendian disebelah medial dari ujung bawah bersendi dengan kepala dari ulna dan formasi persendian radio ulna inferior. Sebelah lateral dari ujung bawah diperpanjang kebawah menjadi prosessus stiloid radius (Gambar 1).9
Kinesiologi
Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkari kapitulum radius, dan di distal oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamen radioulnar, yang mengandung fibrokartilago triangularis. Membranes interosea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat (Gambar 1). Oleh karena itu, patah yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang, hampir selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patah tersebut.



Selain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh otot antartulang, yaitu otot supinator, m.pronator teres, m.pronator kuadratus yang membuat gerakan pronasi-supinasi. Ketiga otot itu bersama dengan otot lain yang berinsersi pada radius dan ulna menyebabkan patah tulang lengan bawah disertai dislokasi angulasi dan rotasi, terutama pada radius.6


A B C
Gambar 1. Anatomi tulang radius; gambar skematis (A,B), membranes interosea (C) .10

E. Pemeriksaan.
Pada pemeriksaan fisik didapati tanda fraktur. Pemeriksa harus memperhitungkan ke¬mungkinan adanya gangguan syaraf, atau kerusakan pembuluh darah. Pada pemeriksaan radiologis yang perlu diperhatikan adalah adanya luksasi sendi radioulnar proksimal atau distal yang lebih dicurigai apabila ditemukan fraktur hanya pada salah satu tulang disertai dislokasi.6


F. Penyulit.
Lesi saraf jarang terjadi pada fraktur tertutup. Apabila terjadi, bisa mengenai saraf radialis, u1naris maupun medianus atau cabangnya. Cedera saraf radia¬lis ditemukan pada fraktur Monteggia, sedangkan cedera saraf medianus sering terjadi pada fraktur radius dis¬tal.
Karena di lengan bawah terdapat banyak pembuluh darah kolateral, kerusakan pembuluh darah jarang berakibat berat terhadap lengan bawah. Penyulit yang segera tampak berupa sindrom kompartemen juga relatif jarang. Apabila terdapat sindrom ini, biasanya sulit.6

G. FRAKTUR RADIUS
I. Fraktur Kaput Radius
Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir tidak pernah ditemukan pada anak-anak (mungkin karena radius proksimal teru¬tama berupa rawan).
Klasifikasi dibagi dalam :
Tipe 1, terbelah vertikal
Tipe 2, fraktur disertai kemiringan
Tipe 3, fraktur shearing (terbelah)
Tipe 4, remuk/hancur (Gambar 2).5,11


Gambar 2. Gambar skematis klasifikasi fraktur kepala radius 5


Mekanisme cedera
Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan menekan kaput radius pada kapitulum. Kaput radius dapat retak atau pecah. Selain itu, rawan sendi pada kapitulum mungkin memar atau pecah; ini tidak dapat ditemukan pada pemeriksaan sinar-X tetapi merupakan komplikasi yang penting.

Gambaran klinik
Fraktur ini kadang-kadang terlewatkan, tetapi rotasi lengan bawah yang terasa nyeri dan nyeri tekan pada sisi lateral siku memberi petunjuk diagnosisnya.

Sinar-X
Foto dapat memperlihatkan: (1) pecah vertikal pada kaput radius; atau (2) satu fragmen di bagian lateral kaput terpecah dan biasanya bergeser ke distal; atau (3) kaput pecah menjadi beberapa fragmen. Perge¬langan tangan juga harus difoto dengan sinar-X, untuk menyingkirkan cedera yang bersamaan pada sendi radioulnaris distal.

Terapi
Pada retakan yang tak bergeser, lengan dipertahankan dalam collar dan manset selama 3 minggu; fleksi dan ekstensi aktif dapat dilakukan, tetapi rotasi harus di¬biarkan pulih sendiri.
Fragmen tunggal yang besar dapat direkatkan kemba¬li dengan kawat Kirschner.
Fraktur kominutif terbaik diterapi dengan mengeksisi kaput radius. Kalau disertai cedera lengan bawah atau gangguan pada sendi radioulnaris distal, banyak terda¬pat risiko migrasi radius ke proksimal: pada kasus ini, kalau dieksisi, kaput perlu diganti dengan prostesis silastik. setelah operasi, dianjurkan melakukan gerak¬an lebih awal.



Komplikasi
Kekakuan sendi sering ditemukan dan dapat melibat¬kan siku dan sendi-sendi radioulnaris. Kadang-kadang timbul miositis osifikans. Kekakuan dapat terjadi baik kaput radius dieksisi atau tidak. Tetapi, mungkin prog¬nosis fraktur kominutif lebih baik bila dilakukan pem¬bedahan.11

II. Fraktur Leher Radius
Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada orang dewasa kaput radius dapat re¬tak atau, patah; pada anak-anak tulang lebih mungkin mengalami fraktur pada leher radius.

Gambaran klinik
Setelah jatuh, anak mengeluh nyeri pada siku. Mung¬kin terdapat nyeri tekan pada kaput radius dan nyeri bila lengan berotasi.

Sinar-X
Garis fraktur tampak melintang. Garis ini terletak tepat di bagian distal diskus pertumbuhan atau benar-benar terdapat pemisahan epifisis dengan fragmen batang yang berbentuk segitiga. Fragmen proksimal miring ke distal, ke depan dan ke luar. Kadang- kadang ujung atas ulna juga mengalami fraktur.

Terapi
Kemiringan kaput radius sampai 20 derajat masih da¬pat diterima. Lengan diistirahatkan dalam collar dan manset, dan latihan dimulai setelah seminggu.
Pergeseran yang lebih dari 20 derajat membutuh¬kan reduksi. Lengan ditarik ke dalam ekstensi dan sedikit varus. Ahli bedah menekan fragmen radius yang bergeser ke posisi semula dengan ibu jarinya. Kalau cara ini gagal, dilakukan reduksi terbuka. Ke¬miringan kaput radius dikoreksi tetapi fiksasi internal akan mengganggu. Pada anak-anak caput radius itu jangan dieksisi karena akan mengganggu keselarasan pertumbuhan radius dan ulna.
Fraktur yang ditemukan seminggu atau lebih lama setelah cedera harus dibiarkan tanpa terapi (kecuali pembebatan ringan).
Setelah operasi, siku dibebat dalam fleksi 90 dera¬jat setelah satu atau dua minggu dan kemudian dian¬jurkan melakukan gerakan.11


III. Fraktur Diafisis Radius
Fraktur pada radius saja biasa terjadi dan biasanya disebabkan oleh pukulan lang¬sung. Hal ini penting karena dua alasan. (1) Dislokasi yang menyertai mungkin tidak terdiagnosis; kalau ha¬nya satu tulang lengan bawah yang patah dan terdapat pergeseran, salah satu atau sendi radioulnar pasti ber¬dislokasi; sebagai tindakan pencegahan seluruh len¬gan bawah harus selalu difoto dengan sinar-X. (2) Non-union cenderung untuk terjadi kecuali kalau di¬sadari bahwa satu tulang memerlukan waktu konso¬lidasi seperti yang diperlukan dua tulang.

Gambaran Klinik
Kalau terdapat nyeri tekan lokal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan sinar-X lebih jauh beberapa hari kemudian.

Sinar-X
Fraktur terdapat di suatu tempat pada radius. Garis fraktur melintang dan pergeseran se¬dikit. Pada anak-anak, tulang yang utuh kadang-ka¬dang bengkok tanpa benar-benar patah (Borden, 1975) (Gambar 3).

A B
Gambar 3. Fraktur diafisis radius; radiologik (A),
Reduksi terbuka dan pemasangan plat (B).11

Terapi
Pada fraktur radius mungkin terdapat pergeseran berputar; untuk menca¬pai reduksi lengan bawah biasanya perlu disupina¬sikan untuk fraktur sepertiga bagian atas, perlu dine¬tralkan untuk fraktur sepertiga pertengahan dan perlu dipronasikan untuk fraktur sepertiga bagian bawah. Tetapi, pada fraktur ra¬dius yang terisolasi diperlukan gips lengkap, men¬cakup siku dan sendi pergelangan tangan, tepat seolah¬-olah kedua tulang lengan bawah patah. Ini mungkin terjadi 12 minggu sebelum konsolidasi selesai.
CATATAN Karena satu tulang utuh, ujung-ujung tu¬lang yang patah itu mungkin sedikit terpisah dan pe¬nyatuan cenderung untuk berjalan lambat; karena alasan ini banyak ahli bedah lebih menyukai fiksasi internal untuk fraktur satu tulang, meskipun demikian tidak aman untuk mulai lagi kerja manual tanpa per-lindungan bebas di atas siku yang mencegah rotasi.11



IV. Fraktur Distal Radius
Fraktur Distal Radius dibagi dalam :
1. Fraktur Galezzi
2. Fraktur Colles
3. Fraktur Smith
 Fraktur Galeazzi
The Galeazzi fraktur ini dinamai Galeazzi Ricardo (1866-1952), seorang ahli bedah di Italia Instituto de Rachitici di Milan, yang menggambarkan fraktur pada tahun 1934.3 yaitu Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi radio-ulna distal.11

Epidemiologi
Fraktur Galeazzi 3-7% dari semua patah tulang lengan bawah, paling sering pada laki-laki. Walaupun pola fraktur Galeazzi dilaporkan jarang, mereka diperkirakan 7% dari seluruh patah tulang lengan bawah pada orang dewasa.12

Mekanisme cedera
Penyebab lazimnya adalah jatuh pada tangan; mungkin disertai daya rotasi. Fraktur radius pada sepertiga bagian bawah dan sendi radioulnar inferior bersubluk¬sasi atau berdislokasi. Cedera ini hampir merupakan pasangan fraktur-dislokasi Monteggia.

Gambaran klinik
Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur Monteggia. Ujung bagian bawah ulna yang menonjol merupa¬kan tanda yang mencolok. Perlu dilakukan pemerik¬saan untuk lesi saraf ulnaris, yang sering terjadi.




Sinar-X
Fraktur melintang atau oblik yang pendek ditemukan pada sepertiga bagian bawah radius, dengan angulasi atau tumpang-tindih. Sendi radioulnar inferior ber¬subluksasi atau berdislokasi (Gambar 4).


A B C
Gambar 4. Fraktur Galeazzi; gambar skematis (A), radiologik (B) dan setelah pemasangan plate dan screw.5

Terapi
Pada fraktur Galeazzi harus dilakukan reposisi secara akurat dan mobilisasi segera karena bagian distal mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka dislokasi sendi ulna distal juga tereposis dengan sendirinya. Apabila reposisi spontan tidak terjadi maka reposisi dilakukan dengan fiksasi K-wire. Operasi terbuka dengan fiksasi rigid mempergunakan plate dan screw.11

 Fraktur Colles
Sejak jaman Hipocrates sampai awal abad 19, fraktur distal radius masih disalah artikan sebagai dislokasi dari pergelangan tangan. Abraham Colles (1725 – 1843) pada tahun 1814 mempublikasikan sebuah artikel yang berjudul ‘On the fracture of the carpal extremity of the radius’. Sejak saat itu fraktur jenis ini diberi nama sebagai fraktur Colles sesuai dengan nama Abraham Colles.
Fraktur Colles’ adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius bagian distal yang berjarak 1,5 inchi dari permukaan sendi radiocarpal dengan deformitas ke posterior (dorsal), yang biasanya terjadi pada umur di atas 45-50 tahun dengan tulangnya sudah osteoporosis. Kalau ditemukan pada usia muda disebut fraktur tipe Colles’.13

Epidemiologi
Fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ lebih sering ditemukan pada wanita, dan jarang ditemui sebelum umur 50 tahun. Secara umum insidennya kira-kira 8 – 15% dari seluruh fraktur dan diterapi di ruang gawat darurat. Dari suatu survey epidemiologi yang dilakukan di Swedia, didapatkan angka 74,5% dari seluruh fraktur pada lengan bawah merupakan fraktur distal radius. Umur di atas 50 tahun pria dan wanita 1 berbanding 5. Sebelum umur 50 tahun, insiden pada pria dan wanita lebih kurang sama di mana fraktur Colles’ lebih kurang 60% dari seluruh fraktur radius. Sisi kanan lebih sering dari sisi kiri. Angka kejadian rata-rata pertahun 0,98%. Usia terbanyak dikenai adalah antara umur 50 – 59 tahun.13

Mekanisme cedera
fraktur Colles’ dapat timbul setelah penderita terjatuh dengan tangan posisi terkadang dan meyangga badan (Appley, 1995 ; Salter, 1981). Pada saat terjatuh sebahagian energi yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan persendian tangan, kemudian baru diteruskan ke distal radius, hingga dapat menimbulkan patah tulang pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.13

Gambaran Klinis
Biasanya penderita mengeluh deformitas pada pergelangan tangan dengan adanya riwayat trauma sebelumnya. Pada penemuan klinis untuk fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ akan memberikan gambaran klinis yang klasik berupa ‘dinner fork deformity’ (Gambar 5), dimana bagian distal fragmen fraktur beranjak ke arah dorsal dan radial, bagian distal ulna menonjol ke arah volar, sementara tangan biasanya dalam posisi pronasi, dan gerakan aktif pada pergelangan tangan tidak dapat dilakukan. Pada fraktur dengan peranjakan yang berat akan dapat menimbulkan extra vasasi darah hingga pergelangan tangan dan tangan bahkan bagian distal lengan bawah akan cepat membengkak.13


Gambar 5. Fraktur Colles; dinner fork deformity.5,6

KLASIFIKASI MENURUT FRYKMAN
(Frykmann, 1967) Klasifikasi ini berdasarkan biomekanik serta uji klinik, juga memisahkan antara intra dan ekstra artikular serta ada tidaknya fraktur pada ulna distal. Pada klasifikasi ini nomor yang lebih besar menunjukkan fase penyembuhan yang lebih rumit dan prognosa yang lebih jelek.
1. Tipe 1 : Fraktur distal radius dengan garis fraktur extra articular.
2. Tipe 2 : Tipe 1 + Fraktur prosesus styloid radius.
3. Tipe 3 : Tipe 1 + Fraktur permukaan sendi radiocarpalia.
4. Tipe 4 : Tipe 3 + Fraktur prosesus styloid radius.
5. Tipe 5 : Fraktur distal radius dengan garis melewati sendi radio ulnar distal.
6. Tipe 6 : Tipe 5 + Fraktur prosesus styloid radius.
7. Tipe 7 : Tipe 5 + Fraktur permukaan sendi radiocarpalia.
8. Tipe 8 : Tipe 7 + Fraktur prosesus styloid radius (Gambar 6).13


Gambar 6. Fraktur Colles; Klasifikasi Menurut Frykman 13

Sinar X
Terdapat fraktur radius melintang pada sambungan kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus ulnar sering putus. Fragmen radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2) bergeser dan miring ke radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal menga¬lami peremukan dan kominutif yang hebat (Gambar 7).11


A B
Gambar 7. Fraktur Colles; gambar skematis (A) dan radiologik (B)11,12




Terapi
Kalau fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat dalam slab gips yang di¬balutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelang¬an tangan dan dibalut kuat dalam posisinya.
Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang dengan erat dan traksi dite¬rapkan di sepanjang tulang itu (kadang-kadang dengan ekstensi pergelangan tangan untuk melepaskan fragmen); fragmen distal kemudian didorong ke tempat¬nya dengan menekan kuat-kuat pada dorsum sambil memanipulasi pergelangan tangan ke dalam fleksi, de-viasi ulnar dan pronasi. Posisi kemudian diperiksa dengan sinar-X. Kalau posisi memuaskan, dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher metakarpal dan dua-pertiga keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini dipertahankan pada posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi fleksi dan deviasi ulnar yang ekstrim harus dihindari; cukup 20 derajat Baja pada tiap arah.
Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan bahu dan jari segera dimulai setelah pa¬sien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami sianosis atau nyeri, harus tidak ada keragu-raguan untuk membuka pembalut.
Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar-X yang baru; pergeseran ulang sering terjadi dan biasa¬nya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya, se¬kalipun manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi.
Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan secara radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain krep sementara.
Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan gips; untuk keadaan ini se¬baiknya dilakukan fiksasi luar, dengan pen proksimal yang mentransfiksi radius dan pen distal, sebaiknya mentransfiksi dasar-dasar metakarpal kedua dan sepertiga. Suatu alat misalnya fiksator Pennig meni¬punyai kelebihan dalam hal pergelangan tangan dapat digerakkan lebih awal. Apapun metode fiksasi yang digunakan, hal yang paling penting adalah pasien harus dilatih menggunakan sendi-sendi yang bebas secara teratur.11

Komplikasi
DINI
Sirkulasi darah pada jari harus diperiksa; pembalut yang menahan slab perlu dibuka atau dilonggarkan.
Cedera saraf jarang terjadi, dan yang mengherankan tekanan saraf medianus pada saluran karpal pun jarang terjadi. Kalau hal ini terjadi, ligamen karpal yang melintang harus dibelah sehingga tekanan saluran dalam karpal berkurang.
Distroft refleks simpatetik mungkin amat sering ditemukan, tetapi untungnya ini jarang berkembang leng¬kap menjadi keadaan atrofi Sudeck.
Mungkin terdapat pembengkakan dan nyeri tekan pada sendi-sendi jari, waspadalah jangan sampai me¬lalaikan latihan tiap hari. Pada sekitar 5% kasus, pada saat gips dilepas tangan akan kaku dan nyeri Berta ter-dapat tanda-tanda ketidakstabilan vasomotor. Sinar-X memperlihatkan osteoporosis dan terdapat pening¬katan aktivitas pada scan tulang.

BELAKANGAN
Malunion sering ditemukan, baik karena reduksi tidak lengkap atau karena pergeseran dalam gips yang ter¬lewatkan. Penampilannya buruk, kelemahan dan hilangnya rotasi dapat bersifat menetap. Pada umum¬nya terapi tidak diperlukan. Bila ketidakmampuan hebat dan pasiennya relatif muda, 2,5 cm bagian ba¬wah ulna dapat dieksisi untuk memulihkan rotasi, dan deformitas radius dikoreksi dengan osteotomi.
Penyatuan lambat dan non-union pada radius tidak terjadi, tetapi prosesus stiloideus ulnar sering hanya diikat dengan jaringan fibrosa saja dan tetap menga¬lami nyeri dan nyeri tekan selama beberapa bulan.
Kekakuan pada bahu, karena kelalaian, adalah kom¬plikasi yang sering ditemukan. Kekakuan pergelangan tangan dapat terjadi akibat pembebatan yang lama.


Atroft Sudeck, kalau tidak diatasi, dapat mengakibat¬kan kekakuan dan pengecilan tangan dengan perubah¬an trofik yang berat.
Ruptur tendon (pada ekstensor polisis longus) biasa¬nya terjadi beberapa minggu setelah terjadi fraktur radius bagian bawah yang tampaknya sepele dan tidak bergeser. Pasien harus diperingatkan akan kemung¬kinan itu dan diberitahu bahwa terapi operasi dapat dilakukan.11

 Fraktur Smith
Smith (orang Dublin, seperti Colles) mendeskribsikan fraktur yang sama sekitar 20 tahun kemudian. Tetapi, pada cedera ini fragmen distal bergeser ke anterior (volar), (inilah mengapa fraktur ini kadang-kadang disebut dengan kebalikan Colles ). Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan.

Gambaran Klinik
Pasien mengalami cedera pergelangan tangan, tetapi tidak terdapat, deformitas garpu-makan malam (din¬ner-fork deformity) (Gambar 8).

Gambar 8. Fraktur Smith; gambar skematis.6

Sinar-X
Terdapat fraktur pads metafisis radius distal; foto lateral menunjukkan bahwa fragmen distal bergeser dan miring ke anterior – sangat berlawanan dengan fraktur Colles (Gambar 9).

A B
Gambar 9. Fraktur Smith; gambar skematis (A) dan radiologik (B)11

Terapi
Fraktur direduksi dengan traksi dan ekstensi pergelangan tangan, dan lengan bawah diimobilisasi dalam gips selama 6 minggu.11



BAB III
KESIMPULAN

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinui¬tas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umum¬nya disebabkan oleh rudapaksa.
Trauma yang menyebab¬kan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.
Fraktur pada radius dapat mengenai kaput, leher, diafisis dan bagian distal. Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir tidak pernah ditemukan pada anak-anak. Pada gambaran sinar-X (1) pecah vertikal pada kaput radius; atau (2) satu fragmen di bagian lateral kaput terpecah dan biasanya bergeser ke distal; atau (3) kaput pecah menjadi beberapa fragmen.
Fraktur leher radius terjadi pada saat jatuh tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada gambaran sinar-X Garis fraktur tampak melintang.
Fraktur diafisis radius biasanya terjadi disebakan oleh pukulan langsung. Pada gambaran sinar-X garis fraktur melintang dan pergeseran sedikit.
Fraktur distal radius, ada 3 jenis, Fraktur Galeazzi : Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi radio-ulna distal. Fraktur Colles : fraktur yang terjadi pada tulang radius bagian distal yang berjarak 1,5 inchi dari permukaan sendi radiocarpal dengan deformitas ke posterior (dorsal), gambaran klinis yang klasik berupa ‘dinner fork deformity’. Fraktur Smith : pada cedera ini fragmen distal bergeser ke anterior (volar), (inilah mengapa fraktur ini kadang-kadang disebut dengan kebalikan Colles ).
Untuk penangannya sesuai dengan letak frakturnya, dapat menggunakan collar dan manset, kawat Kirschner, gips, reposisi dengan K-wire, fiksasi plate n screw, pen, Fiksasi Interna, Fiksasi Eksterna, serta latihan mobilisasi tetapi perlu diperhatikan juga komplikasi yang terjadi.

Tidak ada komentar: